• Keseimbangan Dunia Kerja dan Pendidikan

    By Duta Academy  07 Juni 2022 Artikel  137
    image

    Meskipun pendidikan tidak berorientasi langsung pada pekerjaan, Akan tetapi kebutuhan penyelarasan antara dunia pendidikan dan dunia kerja dewasa ini sangat penting. Penyelarasan ini tidak terlepas dari kesenjangan yang jauh antara jumlah lulusan dengan jumlah kebutuhan dunia kerja (di istilahkan dengan dimensi kuantitas), kesenjangan kompetensi lulusan dengan kompetensi yang di butuhkan dunia kerja (dimensi kualitas), ketidak mampuan wilayah/daerah setempat menyerap lulusan (dimensi lokasi), dan perubahan kondisi ekonomi baik lokal, nasional, global mupun lead time pendidikan (dimensi waktu).

    kesenjangan ini melahirkan tingkat penggangguran yang masih terbilang tinggi di Indonesia. Tidak memenuhi kualifikasi pekerjaan, materi ajaran sekolah yang tidak sesuai dengan kebutuhan dunia kerja, lowongan pekerjaan yang terbatas, banyaknya pekerja yang diberhentikan dari pekerjaan (PHK) serta minimnya kemandirian pencari kerja untuk berwirausaha adalah beberapa faktor klasik tingginya penggangguran tersebut.

    Penyelarasan dunia pendidikan dan dunia kerja diharapkan dapat menghasilkan kualitas lulusan yang dapat memenuhi kualifikasi dan persyaratan yang dibutuhkan dunia kerja atau juga dapat melakukan wirausaha secara mandiri. Tujuan dari penyelarasan ini dapat tercipta paradigma “The right man on the right place”, memperkaya lapangan pekerjaan melalui wirausaha dan sekaligus memperkecil angka penggangguran.

    Beberapa langkah yang harus di lakukan untuk membangun penyelarasan dunia pendidikan dan dunia kerja itu adalah sebagai berikut :

    1. Penyusunan Proyeksi Kebutuhan

    Pertama yang harus di lakukan untuk menyelaraskan dunia pendidikan dan dunia kerja yaitu membangun data proyeksi kebutuhan antara kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja dengan prediksi jumlah lulusan pada setiap lokasi di Indonesia. Dengan sistem ini di harapkan terdapat data untuk memberikan prediksi tentang jurusan apa yang paling dibutuhkan di dunia kerja dalam 5 atau 10 tahun ke depan pada suatu lokasi dan daerah.

    2. Kurikulum Berbasis Kompetensi sesuai Kebutuhan Dunia Kerja

    Kurikulum, merupakan kata kunci dalam penyelarasan dunia pendidikan maupun dunia kerja. Di perlukan adanya penetapan standar mutu lulusan yang dapat disesuaikan dengan kompetensi yang dibutuhkan oleh dunia kerja. Kecenderungan untuk merevisi kurikulum menjadi berbasis kompetensi sesuai dengan kebutuhan dunia usaha/pasar kerja telah lama di wacanakan oleh Pemerintah. Meskipun implementasinya secara spesifik belum terlihat secara nyata. Perlu dukungan dari semua pihak untuk mendorong percepatan revisi kurikulum ini. Akan tetapi perlu terus di ingatkan bahwa sebagus apapun kurikulum, akan kembali kepada guru sebagai tokoh sentral untuk menentukan metode yang tepat dalam pembelajarannya. Karena guru yang menyampaikan langsung ke peserta didik. Kurikulum tidak bisa bicara, guru lah yang berbicara.

     3. Membangun Culture of Doing

    Pekerjaan lanjutan untuk menyelaraskan dunia pendidikan dan dunia kerja adalah mengatur keseimbangan antara pembelajaran akademik dan pembelajaran keterampilan untuk mendapatkan kompetensi lulusan. Kompetensi lulusan ini berpengaruh pada link and match dengan kebutuhan pada pasar tenaga kerja. Berpikir kritis, kreatif, membuat keputusan, menyelesaikan masalah dan belajar dengan cepat adalah kompetensi yang diperlukan dunia kerja dan harus dimiliki lulusan. Untuk itu pendidikan harus di fokuskan untuk melakukan hal-hal yang berguna.

    maka dari itu kita perlu membangun culture of doing. Dengan terbentuknya culture of doing, maka pola pendidikan di Indonesia akan menghasilkan peserta didik yang siap menghadapi tantangan dalam dunia nyata sekaligus dapat beradaptasi langsung dengan dunia kerja.

    Premis utama culture of doing adalah bahwa peserta didik harus terlibat pembelajaran baik melalui penekanan pada upaya kolaboratif, berbasis proyek tugas, atau melalui fokus non-akademik. Langkah-langkah menuju melaksanaan culture of doing adalah dengan memulai memperkenalkan “tugas-tugas yang bermakna dalam kehidupan sehari hari” ke dalam kelas. Sebagai contoh dalam pelajaran ekonomi, mempelajari konsep jual beli secara langsung mempraktekannya di pasar untuk berusaha mendapatkan keuntungan (laba).

    4. Membangun Keterampilan Kewirausahaan berbasis Muatan Lokal

    Penyelarasan ini bersifat mendesak karena kenyataan di masyarakat menunjukkan makin tinggi pendidikan seseorang, makin rendah kemandirian terutama untuk berwirausaha. Pelatihan kewirausahaan merupakan langkah untuk membangun kemandirian itu.

    Kewirausahaan bukan hanya bakat sejak lahir/bersifat praktek lapangan. Kewirausahaan merupakan disiplin ilmu yang perlu juga dipelajari. Kemampuan seseorang dalam berwirausaha, dapat dimatangkan melalui proses pendidikan dan kewirausahaan dapat menciptakkan kemampuan membuat sesuatu yang baru dan berbeda.

    Potensi lokal yang dimiliki oleh setiap daerah tentunya berbeda, baik dari kekayaan alam, laut, atau hutan, yang secara menyeluruh memiliki keunggulan. Pelatihan kewirausahaan berbasis muatan/potensi lokal bisa menjadi salah satu solusi untuk mendorong pertumbuhan perekonomian nasional, mengembalikan posisi Indonesia sebagai negara agraris, maritim dan juga dapat menjadi bekal lulusan dalam menghadapi dunia pasar bebas.

    <!--[if !supportLists]-->-         <!--[endif]-->Membangun Kemitraan

    Kemitraan antara dunia pendidikan dan dunia usaha/kerja perlu harus terus di bangun. Untuk itu perlu dukungan dari pemerintah maupun perusahaan untuk memberikan kesempatan yang luas untuk peserta didik dapat belajar secara langsung di dunia kerja dengan menggunakan sistem magang/prakerin/praktek kerja lapangan (PKL) sehingga mampu membuat mereka siap memasuki dunia kerja.

    Membangun kemitraan ini, tidak ada kendali dengan sekolah-sekolah kejuruan, tetapi sulit di terapkan pada sekolah-sekolah negeri. Sekolah – sekolah negeri tidak mempunyai kultur pemagangan peserta didik. Karena sekolah-sekolah negeri berorientasi pada pelanjutan studi lebih lanjut bagi peserta didik dan bukan mempersiapkan peserta didik siap untuk kerja. Ini mungkin tidak terlepas dari kelemahan mendasar dalam kemitraan yaitu waktu. Banyak guru takut ketinggalan jadwal pelajaran bila harus membangun kemitraan dalam hal sistem magang. Tetapi permasalahan ini dapat teratasi apabila kita berpandangan bahwa ketinggalan pelajaran tidak jadi masalah asalkan peserta didik dapat menyerap ilmu dari luar sekaligus dapat menerapkan pelajaran secara nyata.

     

     

     

Artikel Terkait :